Waldjinah, Keroncong dan Nenekku

Friday, June 29th, 2007

Aku pusing dengan Tugas Akhir(TA). Daripada pusing terus-terusan, aku istirahat sejenak merefreshkan otakku dengan browsing-browsing. Aku buka google.com, bingung mau ngebuka apaan. Tiba-tiba aku inget sama penyanyi idolaku di masa kecil, penyanyi tersebut bernama Waldjinah.

Oya, temen-temen tau ga siapa Waldjinah? Bagi yang belum tau, Waldjinah adalah seorang wanita penyanyi keroncong terbaik. Bagiku, beliau adalah legenda keroncong di Indonesia. Aku sudah terbiasa mendengarkan suara nyanyian beliau sejak aku masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak. Mungkin temen-temen ada yang heran kenapa aku bisa suka keroncong, aku juga heran. Hehe.. Ga ding.

Ceritanya, Nenekku (Ibu dari ayahku, bernama Rika Rusmawati) adalah penggemar berat Waldjinah. Nenek juga seorang penyanyi keroncong hebat. Karena nenek berbakat, maka ga heran kalau nenekku biasa diminta mengisi acara menyanyi keroncong di RRI (Radio Republik Indonesia) kota Jember tiap bulan. Ga Cuma menyanyi di RRI, tapi juga rekaman keroncong di RRI. Jadinya, sekarang banyaaaaaak banget koleksi kaset nenekku yang isinya dinyanyikan oleh nenekku semua. Kebetulan, kakekku (ayah dari ayahku, bernama Basjah Heron) mempunyai kelompok musik keroncong terkenal di daerahku waktu itu. Kelompok musik milik kakekku bernama ”Suara Muspika”. Jadi, kakekku sebagai ketua kelompok musik tersebut setidaknya selalu mengadakan latihan keroncong dengan para pemain musik keroncong tiap bulan sekali di rumah kakekku. Nenekku pastilah ikut serta latihan menyanyi juga. Walaupun pada akhirnya ”Suara Muspika” bubar karena terjadi perpecahan dan perbedaan visi antara pemusik keroncong yang muda-muda dengan yang sudah maestro macam kakekku dan teman-temannya.

Seingatku, latihan musiknya diadakan tiap minggu malam. Aku selalu menyempatkan mendengarkan latihan itu. Tapi sering ga dibolehin oleh mamaku, sebabnya karena besoknya (hari senin) aku harus sekolah, jadi ga boleh tidur terlalu larut malam. Walaupun ga dibolehin, aku selalu curi-curi kesempatan dengan cara mengendap-endap mengintip latihan dari balik jendela kamarku. Kalo tidur, lampu kamarku kan dimatiin tuh, sementara ibuku di dapur (bikin makanan buat temen-temen kakek yang main musik), jadi ga bakal ketahuan kalo aku ngintip latihan dari jendela. Tapi kalo ketahuan, aku pasti dimarahin, disuruh cepat tidur oleh mama. Lagian, mana bisa aku tertidur dengan adanya suara musik keroncong yang lumayan keras dari ruang tamu (latihan musiknya digelar di ruang tamu kakekku, persis di samping kamarku). Ada ada aja mamaku itu.

”Witing tresno jalaran soko kulino”. Kalimat itu tepat untuk melukiskan kesukaanku pada musik keroncong. Siapa lah yang ga jatuh cinta kalo tiap hari dicekoki keroncong terus. Tiap minggu pasti denger kelompok musik kakekku latihan keroncong. Tiap malem mau tidur selalu dinyanyiin keroncong oleh nenekku. Aku kan tidurnya sering sama nenek. Jadi pasti dinyanyiin keroncong dulu (nyanyinya ga pake lagu, Cuma vokal nenekku aja). Tiap mau tidur, aku juga diajari latihan vokal penyanyi keroncong, kan penyanyi keroncong kalo nyanyi ada vibrasi-nya tuh, nah aku diajari supaya suaraku bisa seperti itu. Trus kalo pulang sekolah, sore-sore/malem-malem, pasti nenekku muter kaset keroncong di ruang tamu. Tiap kali ada kaset keroncong yang baru release, aku pasti diajak nenekku ke toko kaset untuk membelinya. Tanpa disadari, aku menjadi fotocopy nenekku. Like father like son, like embah like cucu. Aku jadi hafal judul-judul lagu keroncong beserta nama penyanyinya.

Waktu aku kecil, penyanyi keroncong yang populer antara lain : Waldjinah, Mantous, Gesang, Mus Mulyadi, Sundari Sukotjo, dll. Lagu favoritku anatara lain : Jangkrik Genggong, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Walang Kekek, Jenang Gulo, Lelo Ledung. Penyanyi favoritku adalah Waldjinah. Sama dengan nenek yang suka banget sama Waldjinah.

Sekarang, kalo ngedengerin keroncong, bukan Cuma nostalgia masa kecil bersama nenekku aja yang aku rasakan, tapi juga air mata yang tiba-tiba netes dari kedua mataku. Tiap kali inget keroncong, aku inget nenekku. Hatiku kadang remuk kalo pas denger lagu keroncong, karena inget sama nenekku yang udah meninggal dunia 2 tahun lalu. Aku bener-bener kehilangan wanita yang aku sebut ’Hebat’. Aku terpukul banget. Aku ga bisa melihat nenekku untuk yang terakhir kalinya karena waktu itu aku sedang kuliah di STT Telkom Bandung.

Bagiku, Waldjinah adalah legenda. Beliau melegenda karena musik keroncong yang sejatinya bukan berasal dari Indonesia, melainkan dibawa oleh orang-orang portugis yang menjajah sebagian wilayah Indonesia. Aku berterima kasih banyak pada nenek, yang telah memperkenalkan aku pada musik yang indah dan unik ini, yang ga semua anak muda menyukai musik jenis ini. Ya, keroncong memang fenomenal buatku.

One comment on “Waldjinah, Keroncong dan Nenekku

  1. Prawoto says:

    Sapta, kamu anak ke7 yah?. OK kelihatannya kamu masih muda (masih sibuk TA), aku 51, namaku Prawoto, aku lahir di Jakarta, besar di Jakarta, pokoknya anak Jakarta deh. Tapi heran aku suka sekali keroncong, semua penyanyi keroncong aku suka, dari yang ternama sampai yang kurang ternama. Aku suka mereka semua sebab mereka punya kekhasan sendri masing-masing. Tapi yang paling faforit Musmulyadi dan Waljinah, karena mereka bernyanyi dalam bahasa Jawa. Eny Kusrini juga aku suka, tapi sedih yah dia sedang sakit parah (kita doakan dia) Saat ini aku tinggal di Toronto bersama istri dan 3 anakku. Kalau ke Kanada mampir yah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: